Banyu Kresnadi, M.Sc: TikTok Jadi Mesin Hoaks Tercepat, SnackVideo Jadi Gudang Daur Ulangnya

11 Nov 2025263Foto WidodoWidodo
WhatsApp Image 2025 11 11 at 01.29.26 bac46f09 cropped

Pengamat Ungkap Pola Dua Arah Penyebaran Disinformasi di Platform Video Pendek

Jakarta, 11 November 2025 — Pengamat media digital Banyu Kresnadi, M.Sc mengungkap hasil penelusuran mendalam mengenai pola penyebaran hoaks di platform video pendek yang tengah digandrungi masyarakat Indonesia. Dalam laporan bertajuk “Dari Viral ke Daur Ulang: Ekologi Hoaks di Platform Video Pendek”, Banyu menyimpulkan bahwa TikTok berfungsi sebagai mesin percepatan hoaks, sementara SnackVideo berperan memperpanjang usia konten menyesatkan dengan menjangkau komunitas-komunitas lokal. buatkan meme untuk ukuran WEB “Hoaks hari ini tidak lagi berawal dari teks di grup WhatsApp, tapi dari video berdurasi 30 detik yang dikemas menarik dan mudah dipercaya. TikTok mempercepat penyebarannya, SnackVideo memperluas jangkauannya,” ujar Banyu dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Sabtu (9/11).

Temuan Utama Investigasi TikTok: Akselerator Disinformasi Berdasarkan analisis Banyu, 7 dari 10 video hoaks yang viral di minggu pertama Oktober 2025 berasal dari TikTok. Formatnya beragam: potongan wawancara yang dipelintir, rekaman bencana yang diambil dari negara lain, hingga klaim kesehatan tanpa dasar ilmiah. “TikTok memprioritaskan keterlibatan emosional, bukan akurasi. Begitu video memantik emosi, algoritma akan mendorongnya ke lebih banyak layar,” tegas Banyu. SnackVideo: Tempat Daur Ulang dan Distribusi Lokal Video hoaks yang semula viral di TikTok sering kali di-reupload ke SnackVideo dalam bentuk yang sudah dimodifikasi—judul diganti, narasi diperpendek, atau diberi label lokal seperti nama daerah atau tokoh masyarakat.

“Inilah yang saya sebut lokalisasi hoaks. Konten lama dipermak agar terasa dekat dan relevan. Karena audiens SnackVideo lebih banyak di lapisan pengguna non-metropolitan, hoaks semacam ini hidup lebih lama,” jelasnya. Pola Dua Arah (Two-Step Cycle) Dalam laporannya, Banyu menyebut fenomena “two-step hoax cycle”: Langkah 1: Hoaks muncul dan meledak di TikTok (fase viral cepat). Langkah 2: Hoaks didaur ulang di SnackVideo, disesuaikan untuk komunitas lokal, lalu menetas kembali di platform tertutup seperti WhatsApp dan Facebook. “Ini menjadikan disinformasi tak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti wajah dan alamat,” ujar Banyu.

Data Lapangan & Simulasi Dalam riset mini yang dilakukan sepanjang September–Oktober 2025, tim Banyu Kresnadi memantau 120 konten video yang terbukti mengandung disinformasi berdasarkan verifikasi tiga situs pemeriksa fakta nasional. Hasilnya: 62% pertama kali muncul di TikTok, 31% muncul ulang di SnackVideo dalam waktu maksimal 72 jam, dan 52% dari total konten tersebut akhirnya muncul di grup tertutup (WA/FB) dalam bentuk tangkapan layar atau potongan baru.

Dampak Psikologis dan Sosial Banyu menilai, pola penyebaran hoaks berbasis video pendek ini jauh lebih berbahaya dibanding teks atau gambar statis. “Video pendek menciptakan efek truthiness — orang percaya bukan karena bukti, tapi karena visual dan suara terasa nyata. Saat itu disertai musik latar dan caption meyakinkan, otak langsung menganggapnya fakta,” ujarnya. Ia juga menekankan, fenomena ini memperparah polarisasi sosial karena video hoaks sering kali dikemas dengan sudut pandang politik, agama, atau etnis tertentu.

Rekomendasi dari Banyu Kresnadi Dalam laporannya, Banyu mengajukan tiga langkah strategis untuk memutus rantai penyebaran hoaks berbasis video: Platform Response Policy: TikTok dan SnackVideo perlu menerapkan sistem peringatan berlapis untuk video yang mengandung potongan berita, politik, dan agama tanpa sumber resmi.

Visual Fact-Checking: Lembaga pemeriksa fakta didorong untuk membuat konten tandingan dalam format video berdurasi maksimal 45 detik — bukan artikel panjang. Kampanye Literasi Visual: Pemerintah dan influencer digital disarankan meluncurkan kampanye #CekSebelumShare dengan pesan tunggal: “Kalau videonya terlalu meyakinkan, justru itu yang harus kamu ragukan.”

Pernyataan Penutup “Hoaks era video pendek tidak bisa dihadapi dengan pendekatan lama. Ia butuh respons cepat, visual kuat, dan edukasi yang membumi. Kalau tidak, kebenaran akan terus kalah oleh kecepatan algoritma,” — Banyu Kresnadi, M.Sc, pengamat media digital dan analis perilaku daring.

58562d23 3c2e 4706 bfba 382b68a299cd

Catatan Tambahan Laporan lengkap “Dari Viral ke Daur Ulang: Ekologi Hoaks di Platform Video Pendek” akan diterbitkan dalam Policy Insight Bulletin edisi Desember 2025 oleh Digital Behavior Research Group (DBRG) — lembaga riset independen yang dipimpin oleh Banyu Kresnadi.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.