Daya Beli Rakyat Dijaga, Ekonomi Indonesia Terus Bergerak

22 Sep 202621Foto AndriansahAndriansah
1000162717 cropped

menjaga daya beli masyarakat bukan sekadar urusan ekonomi. Di balik harga beras, telur, ayam, bawang, cabai dan kebutuhan pokok lainnya, ada kehidupan jutaan keluarga yang harus terus berjalan setiap hari.

Ketika harga kebutuhan pokok stabil, masyarakat dapat merencanakan pengeluaran dengan lebih baik. Pedagang dapat menjalankan usahanya. Petani dan peternak memperoleh kepastian pasar. Dan roda perekonomian di tingkat bawah dapat terus bergerak.

Karena itu, komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok patut dilihat sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan produsen.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan pemerintah terus menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga melalui kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan (HA). Pemerintah menempatkan kedua instrumen tersebut sebagai titik keseimbangan agar produsen memperoleh harga yang layak, sementara konsumen tetap terlindungi dari lonjakan harga.

Peninjauan langsung ke pasar juga menunjukkan bahwa pengendalian harga tidak cukup dilakukan dari balik meja. Pemerintah perlu melihat kondisi nyata di lapangan, berdialog dengan pedagang dan masyarakat, serta memastikan pasokan benar-benar tersedia.

Dalam pemantauan di Pasar Potrojayan, Sleman, sebagian besar kebutuhan pokok berada dalam kondisi relatif stabil. Bawang merah misalnya berada pada kisaran Rp32.000–Rp35.000 per kilogram, di bawah harga acuan Rp39.000. Namun pemerintah juga mencatat adanya tekanan pada harga cabai rawit yang mencapai Rp70.000 per kilogram, di atas harga acuan Rp57.000.

fakta tersebut menunjukkan bahwa menjaga harga bukan pekerjaan sekali selesai. Harga pangan dipengaruhi banyak hal seperti produksi, distribusi, musim, biaya transportasi, permintaan dan ketersediaan pasokan. Karena itu, pemerintah harus terus melakukan pemantauan dan intervensi ketika diperlukan.

Kita juga harus memahami bahwa harga yang terlalu rendah tidak selalu berarti kabar baik. Petani dan peternak membutuhkan harga yang memungkinkan mereka menutup biaya produksi dan terus menghasilkan pangan. Sebaliknya, harga yang terlalu tinggi dapat menekan rumah tangga konsumen.

Di tengah dua kepentingan tersebut, negara memiliki peran untuk menjaga keseimbangan. Inilah mengapa kebijakan pangan tidak boleh hanya dilihat dari angka harga di pasar. Di balik angka tersebut terdapat petani yang bekerja di sawah, peternak yang memelihara ternak, pedagang yang membuka lapak sejak pagi, distributor yang mengirimkan barang antardaerah, dan keluarga yang harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menjaga daya beli berarti menjaga seluruh mata rantai tersebut. Pemerintah juga terus memperkuat pasokan. Untuk beras, misalnya, pemerintah menyampaikan bahwa Bulog akan memasok tambahan satu juta ton beras SPHP melalui pasar rakyat maupun ritel modern. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan dan mencegah kelangkaan di pasar.

kehadiran negara dalam persoalan seperti ini penting karena stabilitas ekonomi pada akhirnya harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Pertumbuhan ekonomi yang kita bicarakan di tingkat nasional harus memiliki hubungan dengan kehidupan keluarga di tingkat rumah tangga.

Sederhananya, masyarakat ingin bekerja, mendapatkan penghasilan, membeli kebutuhan pokok dengan harga yang wajar, dan memiliki kepastian bahwa kebutuhan pangan tersedia. Itulah mengapa menjaga daya beli bukan hanya soal menjaga angka inflasi. Ini adalah tentang menjaga rasa aman masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Dalam semangat Pancasila, pembangunan ekonomi harus memiliki dimensi keadilan sosial. Pemerintah, pemerintah daerah, pelaku usaha, petani, peternak, pedagang dan masyarakat memiliki peran masing-masing, Tidak mungkin pemerintah bekerja sendirian.

Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah pusat menjaga kebijakan dan pasokan. Pemerintah daerah memantau kondisi wilayah. Pedagang menjaga kelancaran distribusi. Produsen meningkatkan produksi. Dan masyarakat ikut menjaga pola konsumsi yang sehat serta tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat mengganggu keseimbangan pasar.

Karena itu, menjaga daya beli masyarakat sesungguhnya adalah pekerjaan bersama. Indonesia membutuhkan ekonomi yang tumbuh, tetapi pertumbuhan tersebut harus tetap memiliki fondasi yang kuat di tingkat masyarakat.

Ketika pasar rakyat tetap hidup, pedagang tetap berjualan, petani tetap memproduksi, dan keluarga tetap mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, di situlah kita melihat denyut ekonomi Indonesia yang sesungguhnya.

saya percaya bahwa ekonomi yang kuat bukan hanya terlihat dari angka-angka makro. Ekonomi yang kuat juga terlihat dari kemampuan seorang ibu memenuhi kebutuhan keluarganya, seorang pedagang mempertahankan usahanya, seorang petani memperoleh hasil yang layak, dan masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih tenang.

Karena itu, menjaga harga kebutuhan pokok dan daya beli masyarakat harus terus menjadi bagian penting dari pembangunan. Sebab ketika daya beli rakyat terjaga, roda ekonomi bergerak. Ketika ekonomi bergerak, kesempatan tumbuh. Dan ketika manfaat pembangunan semakin dirasakan masyarakat, Indonesia semakin kuat. Inilah pekerjaan bersama untuk Indonesia menjaga harga, menjaga daya beli, menjaga ekonomi, dan menjaga kesejahteraan rakyat.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.