Dulu Dibilang Duta Gagal, Sekarang Justru Menata Indonesia yang Kacau dengan Tenang

3 Nov 2025173TTemon
Presiden Prabowo Pimpin Khidmat Upacara Penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih di Istana Merdeka
Presiden Prabowo Pimpin Khidmat Upacara Penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih di Istana Merdeka

Ah, betapa cepatnya waktu, dan betapa pendeknya ingatan publik. Dulu, setiap kali nama Prabowo Subianto muncul di layar kaca, barisan komentator politik berlomba-lomba melabelinya: ambisius, emosional, duta gagal. Kini, lucunya, justru ke “duta gagal” itulah bangsa ini menitipkan masa depan.

Tiga kali kalah di Pilpres bukan catatan memalukan, rupanya itu semacam magang kenegaraan. Di setiap kekalahan, ia belajar, menyerap, dan menunggu. Sekarang, setelah resmi memegang tampuk kekuasaan, siapa yang tampak lebih siap dari sosok yang sudah kenyang jatuh-bangun politik selama dua dekade?

Mereka yang dulu mencibir kini pura-pura lupa. Sebagian sibuk mencari cara agar bisa “berdiri di sisi yang benar” alias di sisi pemenang.

Dari Pidato Berapi-api ke Diplomasi Dingin

Ingat masa ketika Prabowo dikenal sebagai sang orator yang bisa membuat mikrofon bergetar? Kini ia justru tampil tenang, santai, bahkan jenaka. Rupanya, setelah cukup lama dituduh “terlalu keras”, ia memutuskan untuk menenangkan diri, bukan karena kehilangan semangat, tapi karena sudah selesai berdebat dengan dirinya sendiri.

Dan yang lucu: begitu ia tenang, orang-orang malah bingung. “Kok nggak marah-marah lagi?” Mungkin mereka rindu drama politik, tapi Prabowo kini memilih kerja nyata, bukan sinetron.

Fokus ke Sistem, Bukan Selfie Politik

Sementara sebagian politisi masih sibuk mencari angle terbaik untuk tampil di media sosial, Presiden Prabowo sibuk menata sistem, sesuatu yang tak seindah feed Instagram, tapi jauh lebih penting untuk masa depan. Disiplin anggaran, reformasi struktur, transparansi rantai pasok pangan, terdengar membosankan, tapi justru di situlah negara bisa berdiri tegak.

Ia tak butuh panggung tambahan. Keuangannya cukup, reputasinya sudah diuji, dan niatnya kini tampak sederhana: meninggalkan sesuatu yang lebih kokoh daripada sekadar slogan kampanye.

Ironi yang Manis

Dulu disebut gagal, sekarang justru jadi simbol keteguhan. Dulu dicemooh karena keras, kini dipuji karena matang. Sejarah memang punya selera humor yang unik, dan kali ini, tawa terakhir tampaknya milik Presiden Prabowo.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.