Edukasi Pelestarian Air Bersih Sejak Dari Sekolah: Gerakan Amerta, Investasi Untuk Masa Depan Generasi Indonesia

Pelestarian sumber daya air bersih bukan sekedar persoalan lingkungan, melainkan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan keberlanjutan kehidupan bangsa. Karena itu, pendidikan konservasi air perlu ditanamkan sejak usia sekolah dasar agar generasi muda tidak hanya memahami pentingnya air, tetapi juga terbiasa menjaga dan menggunakannya secara bijaksana.
Peluncuran gerakan edukasi konservasi sumber daya air melalui buku panduan Amerta oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) merupakan langkah yang patut mendapat perhatian. Melalui panduan tersebut, siswa sekolah dasar diperkenalkan pada praktik hemat air, perlindungan mata air, serta pencegahan pencemaran sungai.
Pendekatan ini memiliki nilai strategis karena pendidikan lingkungan akan lebih efektif apabila tidak berhenti pada teori di ruang kelas, tetapi diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari. Anak-anak dapat diajarkan menutup kran setelah digunakan, menggunakan air secukupnya, tidak membuang sampah ke saluran air, serta ikut menjaga kebersihan lingkungan sekolah dan sumber air di sekitarnya.
Air Bersih Masih Menjadi Tantangan Pembangunan
Pentingnya gerakan ini semakin terlihat apabila dikaitkan dengan kondisi akses dan kualitas air di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase rumah tangga Indonesia yang memiliki akses terhadap sumber air minum layak mencapai 93,22% pada 2025. Angka ini menunjukkan kemajuan perluasan akses, tetapi belum berarti seluruh masyarakat telah menikmati layanan air minum yang aman dan berkualitas.
Data UNICEF Indonesia dalam publikasi WASH Acts Edisi 2026 juga mengungkapkan bahwa baru 30,45% rumah tangga yang memiliki akses terhadap air minum aman berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2024. Perbedaan angka tersebut penting dipahami karena air minum layak dan air minum aman merupakan dua indikator dengan standar yang berbeda.
Sementara itu, data indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 6 yang dipublikasikan UN-Water menunjukkan bahwa hanya sekitar 5% badan air yang dipantau di Indonesia memiliki kualitas air lingkungan yang baik pada 2023. Data ini memperlihatkan bahwa persoalan air tidak cukup diselesaikan melalui pembangunan sarana penyediaan air, tetapi juga membutuhkan perlindungan ekosistem dan pengendalian pencemaran secara berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, pendidikan konservasi air melalui buku Amerta menjadi relevan. Pemerintah tidak hanya memperkenalkan pengetahuan tentang air, tetapi juga membuka ruang pembentukan perilaku yang dapat mendukung upaya pelestarian lingkungan dalam jangka panjang.
Mengubah Pengetahuan Menjadi Kebiasaan
Salah satu keunggulan pendekatan buku Amerta adalah penggunaan cerita, ilustrasi, tokoh personifikasi air, dan pengetahuan sains dasar. Materi mengenai siklus hidrologi, sifat, manfaat, dan penggunaan air disampaikan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami anak-anak.
Siaran pers Kemendikdasmen pada 28 Oktober 2026 menjelaskan bahwa buku karya Tama Kunkun tersebut merupakan hasil program kurasi naskah tahun 2024 melalui Pusat Perbukuan. Pemanfaatannya juga diarahkan agar pembelajaran berlangsung melalui membaca bersama, eksplorasi materi, diskusi, pengamatan, refleksi, hingga tindakan nyata di sekolah dan rumah.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan konservasi dapat berjalan beriringan dengan penguatan literasi. Anak-anak tidak sekedar membaca buku untuk memperoleh pengetahuan, tetapi diajak memahami hubungan antara perilaku manusia dan kondisi lingkungan.
Guru juga dapat mengembangkan pembelajaran melalui kegiatan sederhana, seperti gerakan satu siswa satu kebiasaan hemat air, pemeriksaan keran dan saluran air di lingkungan sekolah, membuat poster larangan membuang sampah ke sungai, mengenalkan fungsi daerah resapan dan perlindungan mata air, mengadakan pengamatan sederhana terhadap kebersihan saluran air di sekitar sekolah, dan membiasakan penggunaan air secara bijak di rumah.
Jika kegiatan tersebut dilaksanakan secara konsisten, sekolah dapat menjadi ruang pembentukan karakter peduli lingkungan yang nyata dan terukur.
Perlu Dukungan Lintas Sektor dan Implementasi Berkelanjutan
Gerakan Amerta akan semakin bermakna apabila diperluas melalui kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas lingkungan, dan masyarakat. Ada beberapa langkah yang dapat memperkuat pelaksanaannya.
Pertama, integrasi pendidikan konservasi air. Materi pelestarian air perlu diperkuat dalam pembelajaran sains, pendidikan karakter, dan kegiatan ekstrakurikuler sehingga tidak berhenti pada kegiatan membaca buku.
Kedua, membangun sekolah peduli air. Setiap sekolah dapat mengembangkan program penghematan air, pemeliharaan fasilitas sanitasi, penanaman pohon, pembuatan biopori, dan pemanfaatan air hujan sesuai kondisi lingkungan.
Ketiga, memperkuat fasilitas sanitasi sekolah. Edukasi harus didukung ketersediaan air bersih, toilet layak, dan sarana cuci tangan. Kemendikdasmen sendiri telah menerbitkan Profil Sanitasi Sekolah Dasar Tahun 2025 yang memotret kondisi sumber air, toilet, dan fasilitas cuci tangan di SD/MI seluruh Indonesia.
Keempat, membangun kolaborasi dengan masyarakat. Sekolah dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah, dinas lingkungan hidup, komunitas peduli sungai, dan pengelola sumber daya air untuk mengadakan kegiatan konservasi secara langsung.
Kelima, melakukan evaluasi dampak. Keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah buku yang diterbitkan atau dibagikan, tetapi juga dari perubahan kebiasaan siswa, penghematan penggunaan air, dan meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan.
Menjaga Air Hari Ini, Menjamin Kehidupan Esok Hari
Gerakan edukasi konservasi air melalui buku Amerta memberikan pendekatan pendidikan yang menghubungkan literasi, ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter. Ini merupakan langkah yang relevan dalam menghadapi tantangan ketersediaan dan kualitas air bersih di Indonesia.
Pembangunan bangsa tidak hanya membutuhkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga generasi yang memiliki tanggung jawab terhadap alam dan sumber daya yang menopang kehidupan.
Air adalah kebutuhan dasar yang tidak dapat digantikan. Karena itu, kesadaran untuk menjaganya harus dibangun sejak dini, dimulai dari ruang kelas, lingkungan keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat.
Pemerintah melalui Kemendikdasmen telah menghadirkan salah satu instrumen edukasi untuk mendukung tujuan tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan gerakan ini diterapkan secara konsisten, menjangkau lebih banyak sekolah, dan menghasilkan perubahan perilaku yang dapat dirasakan masyarakat.
Sebab, menjaga air bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok pemerhati lingkungan. Menjaga air adalah tanggung jawab bersama. Anak-anak yang hari ini belajar menghemat air adalah generasi yang kelak menentukan keberlanjutan sumber daya alam Indonesia.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
