Harga Keekonomian BBM dan LPG di Atas Harga Jual, Pemerintah Berikan Subsidi untuk Jaga Daya Beli

8 Apr 202641TTemon
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa harga energi yang dinikmati masyarakat saat ini jauh di bawah harga keekonomian.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa harga energi yang dinikmati masyarakat saat ini jauh di bawah harga keekonomian.

Harga Keekonomian BBM dan LPG di Atas Harga Jual, Pemerintah Berikan Subsidi untuk Jaga Daya Beli

Pemerintah saat ini masih menahan harga sejumlah energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM) dan LPG 3 kg, di bawah harga keekonomiannya. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga energi global.

Untuk BBM jenis Pertalite, harga keekonomian diperkirakan berada di kisaran Rp 11.700 per liter. Dalam beberapa simulasi ekonomi, angka tersebut bahkan dapat mencapai Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per liter, tergantung pada harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Namun, harga jual kepada masyarakat saat ini tetap ditetapkan sebesar Rp 10.000 per liter.

Sementara itu, solar subsidi memiliki harga keekonomian di atas Rp 11.000 per liter. Meski demikian, masyarakat masih dapat membelinya dengan harga Rp 6.800 per liter. Selisih antara harga keekonomian dan harga jual tersebut ditanggung oleh pemerintah melalui mekanisme subsidi dan kompensasi.

Kebijakan serupa juga berlaku untuk LPG 3 kg. Harga keekonomian gas bersubsidi ini diperkirakan berada di kisaran Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per tabung. Namun, harga yang dibayarkan masyarakat berkisar antara Rp 16.000 hingga Rp 20.000 per tabung, tergantung wilayah distribusi.

Berdasarkan data pemerintah, sekitar 40 hingga 45 juta rumah tangga serta pelaku usaha mikro masih menggunakan LPG 3 kg. Volume distribusi LPG subsidi mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, menjadikannya salah satu komponen utama dalam belanja subsidi energi.

Selisih antara harga keekonomian dan harga jual energi tersebut menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah menyalurkan subsidi serta kompensasi kepada Pertamina sebagai penyedia energi untuk menutup selisih tersebut.

Besaran harga keekonomian energi bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti harga minyak mentah dunia, kurs rupiah terhadap dolar AS, serta biaya distribusi dan pengolahan. Oleh karena itu, nilai subsidi dapat berubah mengikuti kondisi pasar global.

Pemerintah menyatakan kebijakan penahanan harga ini bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengendalikan inflasi, terutama pada sektor energi yang memiliki dampak luas terhadap harga barang dan jasa.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.