Indonesia Sudah Swasembada, Kini Saatnya Peternakan Naik Kelas

Selama ini, keberhasilan sektor peternakan sering dilihat dari satu ukuran: apakah kebutuhan dalam negeri mampu dipenuhi atau tidak. Padahal, ketika swasembada sudah mulai dicapai, pertanyaan berikutnya jauh lebih besar: apa yang bisa dilakukan Indonesia setelah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri?
Jawabannya adalah naik kelas. Kementerian Pertanian menegaskan bahwa capaian swasembada daging ayam ras dan telur ayam ras bukanlah garis akhir, melainkan fondasi untuk memperkuat produktivitas, investasi, hilirisasi, dan perluasan pasar.
Ini merupakan perubahan cara pandang yang penting. Peternakan nasional tidak cukup hanya menghasilkan ayam, telur, susu, atau daging. Produk tersebut harus memiliki nilai tambah yang lebih besar melalui pengolahan, teknologi, industri, distribusi, hingga perluasan pasar. Dengan begitu, manfaatnya tidak berhenti di tingkat produksi.
Peternak mendapatkan pasar yang lebih luas, industri memperoleh ruang investasi, teknologi semakin berkembang, dan masyarakat mendapatkan akses protein hewani berkualitas.
Pemerintah juga mulai memperkuat ekosistem tersebut melalui peningkatan produksi dalam negeri, pemanfaatan teknologi, penguatan investasi, serta hilirisasi. Kementan menekankan bahwa pembangunan peternakan harus dilakukan secara terintegrasi sehingga peternak, industri, teknologi, dan pasar dapat tumbuh bersama.
Momentum ini juga terlihat dari agenda ILDEX Indonesia 2026 yang mempertemukan pelaku industri peternakan nasional dan internasional. Forum tersebut diikuti 192 perusahaan dari 22 negara, terdiri dari 83 perusahaan Indonesia dan 109 perusahaan internasional. Kehadiran mereka membuka ruang untuk pertukaran pengetahuan, transfer teknologi, jejaring usaha, dan penjajakan investasi.
Artinya, pemerintah sedang membangun lebih dari sekadar kemampuan memenuhi kebutuhan pangan. Pemerintah sedang mendorong terbentuknya ekosistem industri peternakan nasional yang lebih modern dan berdaya saing.
Arah ini juga terlihat dalam rancangan penguatan peternakan 2027. Kementan menyiapkan sekitar Rp798 miliar untuk hilirisasi peternakan, khususnya pengembangan daging sapi dan kerbau, telur, serta susu. Fokusnya adalah membangun rantai produksi yang lebih terintegrasi dari peternak hingga pengolahan dan pasar.
Bagi masyarakat, hilirisasi mungkin terdengar seperti istilah industri. Namun dampaknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hilirisasi berarti ketika hasil peternakan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Semakin panjang dan kuat rantai nilai tersebut, semakin banyak pula peluang ekonomi yang dapat tercipta.
Karena itu, keberhasilan swasembada harus dijadikan momentum untuk membangun fondasi yang lebih kuat.
Dari swasembada menuju kemandirian. Dari produksi menuju nilai tambah. Dari peternakan tradisional menuju ekosistem peternakan modern.
Pemerintah tidak ingin capaian swasembada berhenti sebagai angka keberhasilan. Capaian tersebut harus diterjemahkan menjadi produktivitas yang lebih tinggi, investasi yang semakin luas, industri yang berkembang, dan kesejahteraan peternak yang semakin baik.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan peternakan bukan hanya seberapa banyak pangan yang mampu diproduksi Indonesia.
Tetapi seberapa besar nilai ekonomi yang bisa diciptakan dari produksi tersebut dan seberapa luas manfaatnya dirasakan peternak, industri, dan masyarakat.
Inilah fase berikutnya: setelah mampu memenuhi kebutuhan sendiri, Indonesia harus mampu mengolah, menciptakan nilai tambah, memperluas pasar, dan menjadikan peternakan sebagai salah satu kekuatan ekonomi nasional.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
