Kesungguhan Presiden Prabowo Menata Dunia Sepak Bola Indonesia: Indonesia Harus Tampil di Piala Dunia

6 Okt 2026342Foto Reza HermawanReza Hermawan
817569 cropped

Sepak bola Indonesia sedang memasuki fase penting. Setelah bertahun-tahun menghadapi persoalan pembinaan, kualitas kompetisi, infrastruktur, dan konsistensi prestasi, Presiden Prabowo Subianto menunjukkan bahwa sepak bola ditempatkan bukan hanya sebagai hiburan, melainkan bagian dari pembangunan karakter, prestasi, dan kebanggaan nasional.

Keseriusan tersebut terlihat dari rangkaian langkah yang saling berkaitan, menetapkan target Indonesia tampil di Piala Dunia, mendorong pembinaan pemain muda melalui Garudayaksa, memperkuat kompetisi, serta membangun dan merevitalisasi stadion berstandar internasional. Bahkan perkembangan terbaru mendapat pengakuan dari Presiden FIFA Gianni Infantino.

 

1. Target Piala Dunia Dijadikan Tujuan Nasional.

Presiden Prabowo secara terbuka menyatakan, “Indonesia harus masuk Piala Dunia. Itu tekad kita.” Pernyataan tersebut disampaikan ketika meresmikan renovasi dan pembangunan 17 stadion berstandar FIFA pada 17 Maret 2025.

Yang menarik, target tersebut bukan hanya disampaikan sebagai slogan. Dalam kesempatan yang sama, Prabowo mengaitkannya dengan kebutuhan memperkuat pembinaan, klub amatir, fasilitas olahraga sekolah, dan infrastruktur sepak bola. Presiden bahkan menyampaikan gagasan agar pembangunan stadion terus diperluas sehingga pada akhirnya setiap kabupaten memiliki stadion yang baik.

Komitmen itu kembali terlihat pada 2026. Pada Juni, Prabowo meminta agar iklim kompetisi domestik diperbaiki sehingga dapat menghasilkan Timnas yang tangguh dan mampu mewujudkan mimpi lolos ke Piala Dunia.

Bahkan pada Juli 2026, Prabowo kembali menegaskan pentingnya mencari cara agar Indonesia dapat tampil di Piala Dunia dan menyebut sepak bola sebagai bagian dari kehormatan bangsa.

Artinya, Piala Dunia ditempatkan sebagai tujuan jangka panjang yang membutuhkan pembenahan ekosistem, bukan sekadar target hasil pertandingan.

 

2. Garudayaksa Menunjukkan Pentingnya Pembinaan Dari Bawah.

Keseriusan Prabowo terhadap sepak bola sebenarnya sudah terlihat sebelum menjadi Presiden. Sebagai pendiri Garudayaksa Football Academy, Prabowo pada Januari 2024 menjalin kerja sama jangka panjang dengan Aspire Academy Qatar, salah satu pusat pembinaan sepak bola yang dikenal secara internasional.

Kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan pemain muda, mulai dari scouting, seleksi, sport medicine, pembinaan pemain hingga pengembangan infrastruktur. Sasaran pembinaan juga diarahkan kepada kelompok usia muda seperti U-17 hingga kelompok usia di bawahnya.

Ini penting karena pembangunan sepak bola tidak dapat hanya berorientasi pada Timnas senior. Pemain hebat harus diproduksi melalui sistem pembinaan yang panjang, terukur, dan berkelanjutan.

Perkembangan Garudayaksa juga menarik. Garudayaksa FC berhasil menjuarai Pegadaian Championship/Liga 2 2025/2026 setelah mengalahkan PSS Sleman melalui adu penalti 4-3 di final pada 9 Mei 2026. Klub tersebut kemudian promosi ke kasta tertinggi untuk musim 2026/2027.

Prestasi tersebut tentu tidak boleh secara otomatis diklaim sebagai keberhasilan pemerintah. Namun, secara objektif, keberadaan Garudayaksa memperlihatkan bagaimana investasi pada akademi, klub, dan kompetisi dapat menjadi bagian dari ekosistem untuk menghasilkan pemain dan tim yang kompetitif.

 

3. Kompetisi Domestik Harus Menjadi Mesin Pembentukan Pemain.

Salah satu pesan penting Presiden Prabowo kepada Erick Thohir pada Juni 2026 adalah perlunya memperbaiki iklim kompetisi sepak bola domestik agar dapat menghasilkan Timnas yang hebat dan tangguh.

Ini merupakan pendekatan yang strategis. Tim nasional yang kuat tidak mungkin dibangun hanya melalui pemusatan latihan menjelang turnamen. Pemain membutuhkan kompetisi reguler dengan kualitas tinggi, klub yang profesional, pelatih berkualitas, fasilitas latihan memadai, serta kesempatan bermain yang konsisten.

Dengan kata lain, Timnas merupakan ujung dari piramida sepak bola nasional. Jika fondasi kompetisinya kuat, semakin besar pula peluang lahirnya pemain berkualitas.

Perkembangan terbaru bahkan mendapat penilaian positif dari Presiden FIFA Gianni Infantino. Setelah bertemu Prabowo pada 5 Oktober 2026, Infantino menyebut sepak bola Indonesia mengalami kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, antara lain pada aspek tata kelola, investasi, kompetisi, dan pembinaan pemain usia muda.

 

4. Infrastruktur Menjadi Bagian Nyata Dari Transformasi.

Salah satu bukti paling konkret adalah pembangunan dan renovasi stadion. Pada Maret 2025, Presiden Prabowo meresmikan 17 stadion yang telah direnovasi atau dibangun dan memenuhi standar FIFA. Total anggaran untuk proyek tersebut mencapai sekitar Rp1,74 triliun, dengan pelaksanaan pada 2023–2024. Dari 17 stadion tersebut, 16 merupakan renovasi dan satu merupakan stadion baru.

Lebih penting lagi, Presiden tidak berhenti pada 17 stadion. Prabowo menyampaikan kemungkinan pembangunan tambahan sekitar 17–20 stadion dalam dua sampai tiga tahun berikutnya, dengan visi agar setiap kabupaten pada akhirnya memiliki stadion yang baik. Ia juga menekankan pentingnya lapangan sepak bola di sekolah dan dukungan kepada klub-klub amatir.

Kebijakan seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan sepak bola dipandang sebagai pembangunan ekosistem. Stadion bukan hanya tempat pertandingan, tetapi dapat menjadi ruang pembinaan, kompetisi, aktivitas ekonomi, dan pusat kegiatan olahraga masyarakat.

 

5. Momentum 2026 Menunjukkan Hasil Mulai Terlihat.

Keseriusan membangun ekosistem tentu membutuhkan waktu. Namun, 2026 memberikan sejumlah indikator positif.

Indonesia berhasil menjadi juara perdana FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 5 Oktober 2026. Presiden Prabowo hadir langsung menyaksikan pertandingan tersebut dan bersama Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan trofi kepada Timnas Indonesia.

Pada hari yang sama, Infantino juga memberikan penilaian positif terhadap perkembangan sepak bola Indonesia, termasuk tata kelola, investasi, kompetisi dan pembinaan pemain muda. FIFA bahkan melihat peluang Indonesia untuk kembali menjadi tuan rumah berbagai kompetisi internasional.

Tentu, satu gelar tidak boleh dijadikan ukuran tunggal keberhasilan transformasi sepak bola. Tetapi jika kemenangan tersebut ditempatkan bersama pembangunan stadion, penguatan kompetisi, pembinaan usia muda, investasi, dan peningkatan tata kelola, maka terlihat adanya momentum yang jauh lebih besar.

 

6. Prabowo Menempatkan Sepak Bola Sebagai Pembangunan Karakter Bangsa.

Ada satu dimensi yang membuat pendekatan Presiden Prabowo terhadap sepak bola menjadi menarik, bahwa sepak bola tidak semata-mata dipandang sebagai industri prestasi.

Dalam pertemuan dengan Gianni Infantino pada 5 Oktober 2026, Prabowo menekankan bahwa olahraga memiliki peran dalam membangun prestasi sekaligus karakter generasi muda dan bangsa.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Prabowo saat meresmikan stadion pada 2025 bahwa olahraga dapat menjadi ukuran semangat, kehendak, dan daya juang suatu bangsa.

Dari perspektif pembangunan nasional, pendekatan ini cukup relevan. Sepak bola dapat menjadi sarana untuk menanamkan disiplin, kerjasama, sportivitas, daya juang, dan kebanggaan nasional, terutama jika pembinaannya dimulai sejak usia sekolah.

Kesungguhan Presiden Prabowo dalam menata sepak bola Indonesia dapat dilihat dari keterhubungan antara visi, pembinaan, kompetisi, dan infrastruktur.

Momentum terbaru menunjukkan bahwa ekosistem tersebut mulai memperoleh pengakuan internasional. Presiden FIFA Gianni Infantino secara terbuka menilai sepak bola Indonesia telah mengalami kemajuan pada tata kelola, investasi, kompetisi, dan pembinaan usia muda.

Oleh karena itu, optimisme terhadap arah kebijakan Presiden Prabowo bukan semata-mata didasarkan pada retorika. Ada sejumlah kebijakan, investasi infrastruktur, pembinaan, penguatan kompetisi, serta diplomasi sepak bola yang dapat diamati.

Konsistensi ini harus dipertahankan agar target Indonesia menembus Piala Dunia tidak lagi sekadar mimpi besar, tetapi dapat menjadi agenda pembangunan sepak bola nasional yang dikerjakan secara sistematis dari level sekolah, akademi, klub, kompetisi hingga Timnas.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.