Menakar Janji Prabowo Jadikan Marsinah Sebagai Pahlawan Nasional

10 Nov 20251.071FFajri Yanuar
Foto Ilustrasi Marsinah
Foto Ilustrasi Marsinah

Marsinah, perempuan kelahiran 10 April 1969 di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur, dikenal sebagai buruh pabrik arloji PT Catur Putra Surya (CPS) di Porong, Sidoarjo. Namanya melekat dalam sejarah perjuangan buruh Indonesia. Pada 1993, ia turut memperjuangkan kenaikan upah sebesar 20 persen melalui aksi mogok kerja bersama rekan-rekannya. Sebagai aktivis dan mediator serikat buruh, Marsinah berdiri di garda depan memperjuangkan keadilan bagi kaum pekerja. Namun, perjuangan itu berakhir tragis — ia ditemukan meninggal dunia secara mengenaskan. Sejak saat itu, Marsinah menjadi simbol perlawanan dan keberanian buruh di Indonesia.

Dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2025 di kawasan Monas, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan janji yang menyentuh hati: ia akan memperjuangkan agar Marsinah diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Janji itu bukan sekadar retorika, melainkan wujud nyata penghargaan negara terhadap perjuangan kaum buruh.

Kini, janji itu resmi ditepati. Melalui upacara di Istana Negara pada Senin, 10 November 2025, Presiden Prabowo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsinah. Keputusan ini bukan hanya memenuhi aspirasi para buruh, tetapi juga menandai pengakuan negara terhadap perjuangan rakyat kecil yang selama ini kerap terpinggirkan.

Menariknya, pengangkatan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional merupakan usulan langsung dari serikat-serikat buruh di seluruh Indonesia, yang kemudian disambut positif oleh Presiden Prabowo. Langkah ini menjadi sejarah penting, sebab selama ini gelar pahlawan nasional lebih banyak diberikan kepada tokoh militer, politikus, atau pejuang kemerdekaan. Kini, kaum pekerja akhirnya memiliki sosok pahlawan dari barisan mereka sendiri.

Selain Marsinah, Prabowo juga menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sejumlah tokoh besar lain seperti K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jenderal Besar Soeharto, Prof. Mochtar Kusumaatmadja, dan Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Namun, nama Marsinah menempati tempat khusus  bukan karena statusnya, melainkan karena perjuangannya berasal dari akar rakyat.

Langkah Prabowo ini menunjukkan perubahan paradigma dalam memaknai kepahlawanan. Pahlawan kini bukan hanya mereka yang mengangkat senjata, tetapi juga yang berjuang untuk keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. Marsinah menjadi lambang keberanian kaum buruh, dan pengangkatannya merupakan bentuk penebusan janji simbolik Prabowo kepada rakyat pekerja.

Namun, tugas belum selesai. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa penghargaan ini tidak berhenti pada gelar semata. Pemerintah perlu melanjutkan semangat Marsinah melalui kebijakan nyata dalam memperkuat perlindungan buruh, meningkatkan kesejahteraan pekerja, dan memastikan keadilan sosial benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Prabowo telah memenuhi janjinya. Kini giliran kita menjaga agar semangat Marsinah tetap hidup bukan sekadar dalam sejarah, tetapi juga dalam tindakan nyata untuk keadilan bagi setiap pekerja di negeri ini.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.