
Presiden Prabowo Subianto melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, pada Selasa (21/4). Dalam percakapan tersebut, kedua pemimpin membahas kerja sama bilateral serta perkembangan situasi global.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa salah satu poin pembahasan adalah persetujuan Indonesia untuk mengekspor pupuk urea ke Australia sebanyak 250.000 ton pada tahap awal. Albanese disebut menyampaikan apresiasi atas keputusan tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi urea nasional mencapai sekitar 7,8 juta ton per tahun, sementara kebutuhan dalam negeri berada di kisaran 6,3 juta ton. Dengan kondisi tersebut, Indonesia memiliki surplus yang memungkinkan untuk ekspor ke sejumlah negara.
Selain Australia, pemerintah Indonesia juga berencana mengekspor pupuk urea ke beberapa negara lain, seperti India, Filipina, Thailand, dan Brasil, dengan total komitmen ekspor sekitar 1 juta ton.
Dalam pernyataannya melalui media sosial, Albanese menyebut pembicaraan dengan Presiden Prabowo juga mencakup perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap kawasan. Ia menegaskan pentingnya kerja sama antara kedua negara dalam menjaga kelancaran arus barang kebutuhan pokok dan memperkuat ketahanan rantai pasok energi.
“Australia dan Indonesia bekerja sama untuk mendukung kelancaran distribusi barang-barang penting serta memperkuat ketahanan rantai pasok energi di masa depan,” tulis Albanese.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Indonesia atas dukungan dalam membantu mengamankan pasokan pupuk bagi Australia.
Hubungan Indonesia dan Australia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan peningkatan, ditandai dengan komunikasi intensif antara kedua pemimpin serta kerja sama di berbagai sektor strategis.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
