
Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang relatif aman jika terjadi Perang Dunia III. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (8/4/2026), yang dihadiri jajaran Kabinet Merah Putih, pejabat eselon I kementerian/lembaga, serta para direktur utama BUMN.
Dalam arahannya, Presiden menilai posisi Indonesia cukup aman karena faktor geografis dan kondisi domestik yang stabil. Ia juga menyinggung fenomena meningkatnya jumlah warga negara asing dari negara konflik yang memilih tinggal di Indonesia, khususnya di Bali.
Presiden menjelaskan bahwa situasi tersebut menunjukkan Indonesia dipandang sebagai negara yang aman dan nyaman di tengah ketegangan global.
Selain itu, pemerintah tengah mempertimbangkan pembangunan pusat keuangan khusus sebagai langkah strategis untuk menarik investasi asing. Rencana ini, menurut Presiden, dapat menjadi wadah bagi investor global, terutama dari kawasan yang terdampak konflik, untuk menanamkan modal di Indonesia dengan dukungan insentif fiskal dan kemudahan regulasi.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyoroti posisi strategis Indonesia dalam jalur perdagangan dan energi dunia. Ia menyebut sebagian besar distribusi energi dan perdagangan Asia Timur melintasi perairan Indonesia, termasuk jalur penting seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Makassar.
Menurut Presiden, kondisi tersebut menjadikan Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas global sekaligus memperkuat posisi tawar di tingkat internasional.
Lebih lanjut, Presiden menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam dan potensi nasional secara optimal. Ia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan yang besar dan peluang untuk menjadi negara yang kuat dan mandiri apabila dikelola dengan baik.
Presiden juga mengajak seluruh jajaran pemerintah untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dan menghindari ego kelembagaan. Ia menegaskan perlunya kesatuan visi dan langkah dalam menjalankan program pembangunan nasional.
Di akhir arahannya, Presiden menilai periode satu tahun ke depan sebagai fase penting untuk memperkuat ketahanan nasional, khususnya di bidang pangan dan energi, guna menghadapi dinamika global yang terus berkembang.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
