Revitalisasi Massal 71.744 Sekolah Tahun 2027: Investasi Nyata untuk Sekolah Aman dan Pendidikan Bermutu

Rencana pemerintah untuk melanjutkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan pada 2027 merupakan bagian penting dari agenda pembenahan sarana pendidikan nasional. Kebijakan ini relevan karena kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, guru, dan metode pembelajaran, tetapi juga oleh kondisi ruang belajar tempat jutaan anak Indonesia menjalani proses pendidikan setiap hari.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur pendidikan masih sangat besar. Per 2026, pemerintah mencatat sekitar 196.022 satuan pendidikan mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan, sehingga revitalisasi harus dilakukan secara bertahap berdasarkan skala prioritas.
Karena itu, rencana revitalisasi 71.744 satuan pendidikan pada 2027 dapat dipandang sebagai bagian dari upaya sistematis negara untuk memastikan semakin banyak peserta didik memperoleh ruang belajar yang aman, nyaman, bersih, dan layak.
Pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berbicara mengenai peningkatan kemampuan akademik siswa. Anak membutuhkan ruang kelas yang aman, sanitasi yang layak, fasilitas pembelajaran yang memadai, serta lingkungan sekolah yang mendukung proses belajar.
Kemendikdasmen sendiri menegaskan bahwa revitalisasi bukan semata-mata pembangunan fisik. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan bahwa revitalisasi dan digitalisasi merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang lebih besar, yaitu menghadirkan pendidikan bermutu untuk semua. Kondisi ruang kelas dan sarana pendidikan yang memadai juga disebut berpengaruh terhadap kenyamanan peserta didik serta kemampuan guru menjalankan pembelajaran.
Dengan demikian, memperbaiki sekolah yang rusak bukan hanya mempercantik bangunan. Yang dibangun sesungguhnya adalah lingkungan yang memungkinkan proses pendidikan berlangsung secara lebih aman dan efektif.
Pada 26 September 2026, Mendikdasmen menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan revitalisasi 71.744 satuan pendidikan pada 2027 dengan mekanisme swakelola sebagaimana diterapkan pada tahun sebelumnya. Pemerintah juga telah menghitung potensi penambahan sekitar 6.000 satuan pendidikan.
Penentuan penerima juga diarahkan pada tiga kelompok prioritas, yakni sekolah yang terdampak bencana, sekolah dengan kerusakan berat, serta sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pendekatan tersebut penting karena revitalisasi dalam skala nasional harus didasarkan pada kebutuhan riil. Sekolah dengan kerusakan berat dan wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan fasilitas memang membutuhkan perhatian lebih besar agar pemerataan layanan pendidikan dapat berjalan.
Kemendikdasmen juga telah menekankan pentingnya akurasi data kondisi prasarana. Data tersebut menjadi dasar untuk memetakan kebutuhan, menetapkan prioritas, menyusun pembiayaan, serta memastikan intervensi pemerintah tepat sasaran.
Program ini juga tidak berdiri dari nol. Pada 2025, Kemendikdasmen melaporkan telah merevitalisasi 16.167 satuan pendidikan, atau 135 persen dari target awal 10.669 satuan pendidikan.
Capaian tersebut menjadi pengalaman penting bagi pemerintah dalam memperluas program pada tahun-tahun berikutnya. Skala program yang semakin besar tentu membutuhkan pengawasan, akurasi data, transparansi penggunaan anggaran, serta evaluasi hasil pembangunan agar revitalisasi tidak berhenti pada selesainya pekerjaan konstruksi.
Hal yang juga menarik adalah penggunaan mekanisme swakelola. Pemerintah menyebut mekanisme tersebut dapat memberikan manfaat berupa efisiensi, ketepatan waktu, serta dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar karena tenaga kerja dan material dapat berasal dari lingkungan setempat.
Dengan jumlah sekolah yang direvitalisasi mencapai puluhan ribu, efek ekonominya berpotensi menyebar ke berbagai daerah, khususnya melalui aktivitas konstruksi dan penggunaan tenaga kerja lokal.
Kemendikdasmen menyiapkan anggaran Rp61,1 triliun untuk 2027 guna mendukung program prioritas pendidikan dasar dan menengah. Revitalisasi satuan pendidikan menjadi salah satu fokus dalam kebijakan tersebut, bersama digitalisasi pembelajaran dan berbagai program pemerataan akses pendidikan.
Besarnya anggaran sekaligus membawa tanggung jawab besar. Masyarakat berhak melihat bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar menghasilkan perubahan nyata di sekolah.
Untuk itu, keberhasilan revitalisasi seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah gedung yang diperbaiki. Indikatornya dapat diperluas menjadi kondisi bangunan setelah revitalisasi, kelayakan toilet dan sanitasi, ketersediaan ruang kelas, keamanan lingkungan sekolah, aksesibilitas bagi peserta didik berkebutuhan khusus, serta peningkatan kenyamanan proses belajar mengajar.
Dengan ukuran seperti itu, publik dapat mengetahui secara konkret dampak program terhadap kehidupan peserta didik.
Revitalisasi 71.744 satuan pendidikan pada 2027 memiliki makna lebih besar daripada proyek pembangunan fisik. Sekolah merupakan tempat anak-anak Indonesia mempersiapkan masa depannya. Ketika ruang belajar aman dan layak, guru memiliki lingkungan kerja yang lebih baik dan peserta didik memiliki kondisi yang lebih mendukung untuk belajar.
Pemerintah juga telah menyampaikan arah agar perbaikan satuan pendidikan dilakukan secara bertahap hingga seluruh sekolah yang membutuhkan penanganan dapat ditangani. Dalam penjelasan program prioritas 2027, Presiden Prabowo menekankan bahwa negara harus memastikan anak-anak belajar di sekolah yang aman dan bermartabat.
Karena itu, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan target 71.744 sekolah, tetapi memastikan ketepatan sasaran, kualitas pekerjaan, transparansi anggaran, pengawasan, dan keberlanjutan pemeliharaan.
Pada akhirnya, keberhasilan revitalisasi akan terlihat bukan dari banyaknya gedung yang baru atau diperbaiki, melainkan dari semakin banyak anak Indonesia yang dapat belajar dalam lingkungan sekolah yang aman, sehat, nyaman, dan layak.
Revitalisasi sekolah adalah investasi jangka panjang. Ketika negara memperbaiki ruang belajar hari ini, yang sesungguhnya sedang dipersiapkan adalah kualitas generasi Indonesia untuk puluhan tahun mendatang.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
