
BANTUL — Sebuah pemandangan mengharukan dari Padukuhan Cepoko, Kalurahan Trirenggo, Kabupaten Bantul, membuat banyak hati tersentuh. Di tengah suasana duka pemakaman almarhumah Ibu Cicilia Painah yang dilaksanakan secara Katolik, warga sekitar yang mayoritas beragama Islam justru hadir berdiri paling depan membantu seluruh proses pemakaman dengan tulus dan penuh penghormatan.
Tidak ada sekat. Tidak ada rasa canggung. Yang terlihat hanyalah manusia membantu manusia lain yang sedang kehilangan orang tercinta.
Dalam video yang beredar di media sosial, tampak warga bahu-membahu mempersiapkan prosesi pemakaman, mengangkat perlengkapan, mengiringi jenazah, hingga menemani keluarga yang larut dalam kesedihan. Langkah mereka berjalan pelan mengantar almarhumah menuju peristirahatan terakhir, seolah menjadi pesan sunyi bahwa kasih sayang jauh lebih besar daripada perbedaan keyakinan.
Di saat media sosial sering dipenuhi pertengkaran soal agama dan identitas, masyarakat kecil di kampung justru memberi pelajaran tentang arti kemanusiaan yang sesungguhnya. Mereka tidak sibuk mempertanyakan siapa yang berbeda, tetapi sibuk memastikan keluarga yang berduka tidak merasa sendirian.
Momen ini menjadi potret Indonesia yang masih menyimpan hati. Bahwa toleransi sejati bukan hanya kata-kata indah di pidato atau slogan di baliho, melainkan hadir nyata ketika tetangga datang membantu tanpa memandang agama.
Tradisi gotong royong seperti ini telah lama hidup di tengah masyarakat Nusantara. Ketika ada yang meninggal dunia, satu kampung ikut merasa kehilangan. Kesedihan bukan hanya milik keluarga, tetapi menjadi duka bersama yang dipikul dengan kebersamaan dan kepedulian.
Kalurahan Trirenggo sendiri dikenal sebagai wilayah yang masih menjaga erat budaya sosial dan kebersamaan antarwarga. Nilai-nilai itulah yang tampak hidup dalam prosesi pemakaman Ibu Cicilia Painah.
Banyak warganet mengaku terharu setelah menyaksikan video tersebut. Di tengah derasnya kabar kebencian dan perpecahan, momen sederhana dari sebuah kampung di Bantul justru mengingatkan bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh kesamaan agama, tetapi juga oleh rasa hormat, empati, dan kemanusiaan.
“Mungkin kita tidak lahir dari keyakinan yang sama.
Tetapi saat duka datang, kita tetap berjalan berdampingan sebagai sesama manusia.”
Sumber video: https://www.facebook.com/reel/1352623083589880
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
