Sanggar Kegiatan Belajar Baturraden Buka Jalan bagi Anak Putus Sekolah

Pendidikan tidak seharusnya berhenti hanya karena seseorang pernah mengalami keterbatasan ekonomi atau persoalan keluarga. Justru ketika seorang anak kehilangan kesempatan bersekolah, negara perlu hadir membuka jalan agar masa depannya tidak ikut terhenti.
Langkah tersebut terlihat dari mulai beroperasinya Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) di Sentra Satria Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah. Pada tahap awal, sebanyak 50 peserta didik mengikuti pembelajaran melalui program pendidikan kesetaraan yang mencakup Paket A, Paket B, dan Paket C. Program ini ditujukan bagi mereka yang sebelumnya tidak bersekolah, putus sekolah, atau belum memperoleh kesempatan belajar.
Yang menarik, SKB tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi menjadi jembatan untuk kembali mengejar pendidikan. Kisah peserta yang kembali bersekolah setelah bertahun-tahun terhenti menunjukkan bahwa kesempatan kedua tetap memiliki arti besar. Pendidikan bukan hanya soal ijazah, tetapi juga tentang membuka kembali pilihan hidup dan memperbesar peluang seseorang untuk memperbaiki masa depannya.
Pemerintah juga mendorong penjangkauan terhadap anak-anak yang putus sekolah karena persoalan ekonomi melalui pendamping sosial, SDM PKH, dan pekerja sosial dengan memanfaatkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Artinya, pendekatan yang dibangun tidak semata menunggu anak datang mencari sekolah, tetapi berupaya menemukan mereka yang masih berada di luar akses pendidikan.
Ini penting karena kemiskinan tidak cukup ditangani hanya melalui bantuan ekonomi. Memutus kemiskinan antargenerasi juga membutuhkan investasi pada pendidikan. Ketika anak dari keluarga rentan kembali memperoleh kesempatan belajar, yang dibangun bukan hanya kemampuan akademiknya, tetapi juga peluang untuk memiliki masa depan yang lebih baik.
Karena itu, keberadaan SKB Baturraden layak dilihat sebagai bagian dari upaya memperluas akses pendidikan. Tantangannya ke depan adalah memastikan program semacam ini terus menjangkau mereka yang membutuhkan, didukung pendampingan yang memadai, serta membuka jalan agar peserta didik dapat melanjutkan pendidikan maupun mengembangkan keterampilan. Sebab, anak yang pernah putus sekolah bukan berarti kehilangan masa depan. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan untuk kembali melangkah
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
