Hari Saat Petani Tidak Lagi Menghitung Cemas

27 Nov 202580Foto Dokter KelilingDokter Keliling
672ac9e2d1ad1 cropped

Penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen yang mulai berlaku Oktober 2025 menjadi momentum penting bagi stabilitas pangan nasional. Di tengah tekanan biaya produksi yang selama ini menekan margin petani, kebijakan Presiden Prabowo Subianto ini menghadirkan perubahan langsung di lapangan: ongkos tanam turun, peluang peningkatan produksi membaik, dan harga gabah kini lebih menguntungkan setelah pemerintah menetapkan HPP Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram sejak 15 Januari 2025.

Di Kecamatan Jonggol dan Sukamakmur, para petani merasakan dampak itu secara nyata. “Para petani antusias dan bahagia. Sekarang, apalagi harga gabah kering panen tinggi, petani itu sangat bahagia,” kata Jajang, Ketua BPP Wilayah XII. Ia menilai penyesuaian Harga Eceran Tertinggi pupuk Urea dan NPK melalui Kepmentan 1117/2025 adalah langkah strategis yang mengurangi tekanan biaya produksi menuju target swasembada pangan 2026.

Jajang menyebut distribusi pupuk kini lebih tertib setelah diperkuat oleh sistem e-RDKK. “Tidak ada lagi kelangkaan, semua kios punya stok. Petani tinggal datang bawa KTP, kalau datanya sudah masuk langsung dilayani,” ujarnya. Ia menambahkan jika ada petani belum masuk sistem, ketua kelompok tani cukup mengajukan ulang ke penyuluh untuk diterbitkan kuota baru.

Endang Suryadi petani dari Jonggol, menggambarkan perubahan yang ia rasakan sebagai penghematan yang akhirnya masuk ke hasil. Ia menjelaskan, “Dampaknya besar banget tadinya uang habis buat pupuk sekarang bisa disisihkan buat obat-obatan dan kebutuhan lain, berasa banget bedanya.” Ia juga menegaskan harapannya agar kebijakan ini tidak berubah. “Pupuk jangan naik lagi, Petani sudah nyaman. Terima kasih sudah dibantu Pak Prabowo.”

Petani lain Sumarna, menyampaikan hal serupa. Ia menyebut penurunan HET membuat biaya satu musim tanam lebih terkendali. “Biasanya kami deg-degan karena harga pupuk suka berubah. Sekarang lebih pasti, modal tanam jadi lebih ringan,” ujarnya. Namun ia berharap stabilitas harga gabah terus diperkuat “Harga GKP Rp6.500 itu cukup menolong, tapi jangan sampai turun. Kalau bisa naik sedikit lagi supaya petani lebih semangat.”

Dari wilayah Sukamakmur, petani muda bernama Adi menilai kebijakan ini memberi sinyal bahwa pemerintah mulai memperhatikan struktur biaya produksi secara lebih serius. “Kami petani muda kan baru mulai bangun usaha tani. Penurunan pupuk ini penting banget rasanya kayak dikasih napas baru,” katanya. Ia berharap pendampingan penyuluh tetap intens, terutama dalam memastikan kuota e-RDKK sesuai kebutuhan musim.

Pengamat kebijakan pangan Universitas Nasional, Dr. R. Wirabuana, menilai rangkaian kebijakan pupuk dan HPP gabah era Prabowo mulai menunjukkan kohesi yang lebih terstruktur. “Selama distribusi dijaga dan kuota akurat, penurunan HET pupuk akan menjadi instrumen efektif untuk produktivitas jangka menengah. Ini bukan hanya intervensi harga, tapi bagian dari paket kebijakan pangan yang lebih luas,” katanya.

Program pertanian memang menjadi pilar utama agenda Presiden Prabowo, termasuk penurunan harga pupuk, peningkatan produksi strategis, dan penguatan sistem pendampingan. Pemerintah menargetkan percepatan swasembada pangan melalui ketersediaan pupuk murah, akses distribusi tertib, dan harga gabah yang lebih menguntungkan petani.

Kebijakan ini memperlihatkan perubahan paradigma: pembangunan pertanian yang tidak hanya mengejar hasil panen nasional, tetapi juga memperbaiki kesejahteraan petani sebagai aktor utama. Jika kestabilan harga, distribusi pupuk, dan pengawasan lapangan terus konsisten, rangkaian program pangan Presiden Prabowo berpotensi menjadi tonggak penting dalam memperkuat fondasi ekonomi rakyat pada 2025–2026.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.