Keadilan yang Akhirnya Tiba: Rehabilitasi Dua Guru Luwu Utara oleh Presiden Prabowo

13 Nov 2025226FFajri Yanuar
Momen Presiden Prabowo foto bersama dengan guru yang diberikan rehabilitasi
Momen Presiden Prabowo foto bersama dengan guru yang diberikan rehabilitasi

Perjalanan panjang dua guru asal Luwu Utara, Sulawesi Selatan — Abdul Muis dan Rasnal — akhirnya mencapai titik terang. Setelah lima tahun menanggung beban stigma dan diskriminasi akibat tuduhan hukum yang tidak proporsional, keduanya kini mendapatkan rehabilitasi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.

 

Keputusan yang diambil di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (13/11/2025) dini hari itu bukan sekadar penandatanganan surat resmi. Ia adalah bentuk keberanian seorang pemimpin untuk menegakkan keadilan yang sempat tertunda.

 

Dua guru ini, yang sebelumnya mengajar di SMA Negeri 1 Luwu Utara, harus menanggung hukuman penjara setelah dituduh merugikan negara akibat pengelolaan iuran komite sekolah sebesar Rp 20.000 per siswa. Padahal, iuran itu disepakati secara terbuka untuk membayar gaji guru honorer yang tidak dibiayai dana BOS. Tidak ada niat memperkaya diri, tidak ada upaya melanggar hukum — hanya keikhlasan untuk menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah keterbatasan.

 

Namun, laporan sebuah LSM pada tahun 2020 mengubah nasib mereka. Proses hukum tetap berjalan, meski jaksa berkali-kali mengembalikan berkas karena tak ditemukan unsur pidana. Hingga akhirnya, Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman satu tahun penjara. Rasnal menjalani delapan bulan, Abdul Muis tujuh bulan — dua pendidik yang seharusnya dihormati justru diperlakukan seperti penjahat.

 

Presiden Prabowo tampaknya melihat bahwa keadilan tidak berhenti di meja pengadilan. Keadilan sejati menuntut keberanian untuk memperbaiki kesalahan sistem ketika hukum kehilangan nuraninya. Rehabilitasi yang diberikan kepada kedua guru ini adalah pengakuan atas dedikasi mereka, sekaligus pesan moral bahwa guru harus dilindungi, bukan dikriminalisasi.

 

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menegaskan, keputusan Presiden lahir dari aspirasi masyarakat yang disampaikan secara berjenjang — dari DPRD Sulsel, DPR RI, hingga akhirnya sampai ke Presiden. Perjuangan panjang ini menunjukkan bahwa suara rakyat, ketika disalurkan dengan benar, tetap mampu mengetuk pintu keadilan.

 

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pemerintah melakukan koordinasi intensif selama sepekan sebelum Presiden mengambil keputusan. Ia menyebut langkah ini sebagai wujud penghargaan terhadap profesi guru yang selama ini menjadi pilar utama pendidikan bangsa.

 

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang harus kita lindungi dan kita hormati,” ujarnya. Kalimat yang sederhana namun sarat makna: di tengah derasnya birokrasi dan kaku-nya prosedur hukum, empati masih bisa menjadi dasar kebijakan negara.

 

Abdul Muis dan Rasnal menyambut keputusan ini dengan penuh haru. “Selama lima tahun kami merasakan diskriminasi, baik dari aparat maupun atasan kami,” kata Abdul Muis. Sementara Rasnal mengaku perjalanan mencari keadilan sangat melelahkan. “Setelah bertemu Bapak Presiden, alhamdulillah nama baik kami dipulihkan,” ucapnya dengan suara bergetar.

 

Momen itu bukan hanya penutupan kasus, tapi juga pembuka kesadaran baru: bahwa negara tidak boleh membiarkan para guru berjuang sendirian di medan ketidakadilan. Karena tanpa guru, tidak akan ada generasi penerus bangsa yang berilmu dan berkarakter.

 

Rasnal bahkan menegaskan harapannya agar peristiwa seperti ini tidak terulang. “Semoga ke depan tidak ada lagi kriminalisasi terhadap guru-guru yang sedang berjuang di lapangan,” katanya. Sebuah seruan yang patut menjadi renungan bagi seluruh aparat penegak hukum dan birokrasi pendidikan.

 

Langkah Presiden Prabowo ini menunjukkan satu hal penting: bahwa keadilan tidak hanya soal hukum, tetapi juga soal hati nurani. Rehabilitasi dua guru Luwu Utara menjadi bukti bahwa negara bisa hadir dengan wajah yang manusiawi — membela mereka yang lemah, tanpa kehilangan ketegasan dalam prinsip. Keadilan memang sering datang terlambat. Tapi ketika akhirnya tiba, ia membawa ketenangan bagi mereka yang berjuang dalam sunyi.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.