Menguatkan dari Dekat: Tahun Baru Presiden di Tengah Korban Banjir Sumatera

Malam pergantian tahun biasanya dirayakan dengan sorak-sorai dan pesta kembang api. Namun di penghujung 2025, suasana itu terasa kontras dengan kondisi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ratusan ribu warga masih bertahan di pengungsian akibat banjir dan longsor. Di tengah situasi inilah Presiden Prabowo Subianto berencana memilih menghabiskan malam Tahun Baru di lokasi bencana—sebuah keputusan yang sarat makna, jauh dari sekadar agenda simbolik.
Langkah ini mencerminkan cara pandang kepemimpinan yang menempatkan empati sebagai fondasi utama. Alih-alih hadir di pusat perayaan, Presiden justru berdiri di tengah masyarakat yang sedang berjuang memulihkan hidupnya. Kehadiran fisik pemimpin negara di saat genting memberi pesan sederhana namun kuat yaitu negara tidak menutup mata, apalagi menjauh, ketika rakyatnya tertimpa musibah.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, menjelaskan bahwa presiden dijadwalkan berada di wilayah terdampak bencana hingga malam pergantian tahun baru, namun rencana ini masih disesuaikan dengan kondisi lapangan. Kehadiran presiden ke lokasi bencana juga merupakan komitmen Presiden Prabowo secara langsung yang menegaskan akan mengunjungi wilayah terdampak bencana minimal sepekan sekali guna memastikan proses pemulihan berjalan sesuai rencana.
Dari sisi kebijakan, negara juga menunjukkan keberpihakan nyata. Dana Kemasyarakatan Presiden, Dana Siap Pakai BNPB hingga triliunan rupiah, serta dukungan transfer ke daerah disalurkan untuk pemulihan 2025–2026. Santunan bagi korban meninggal dan luka-luka diberikan, rumah sakit kembali beroperasi, dan sebagian besar jalan nasional mulai pulih. Kehadiran Presiden di lapangan memperkuat pesan bahwa semua kebijakan itu bukan sekadar angka di APBN, tetapi benar-benar menyentuh kehidupan warga.
Lebih jauh, keputusan menghabiskan malam Tahun Baru di lokasi bencana juga menjadi teladan moral bagi seluruh penyelenggara negara. Bahwa kepemimpinan tidak diukur dari seberapa meriah perayaan, melainkan dari keberanian hadir di saat paling sunyi dan sulit. Ketika masyarakat menahan duka, negara pun seharusnya ikut menahan euforia.
Pemulihan pascabencana memang masih panjang. Namun, di tengah lumpur dan puing, kehadiran pemimpin memberi keyakinan bahwa rakyat tidak ditinggalkan. Malam Tahun Baru kali ini mungkin tanpa kembang api, tanpa panggung hiburan. Tetapi justru dari kesederhanaan itu, pesan kepemimpinan Prabowo terasa paling terang: negara hadir bukan saat sorotan paling gemerlap, melainkan saat rakyat paling membutuhkan.
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
