Prabowo dan Percepatan Swasembada Pangan Indonesia

6 Okt 202628FFajri Yanuar
x1b5li1a9ue90w3 cropped

Sejak awal memimpin, Presiden Prabowo Subianto menempatkan swasembada pangan sebagai salah satu agenda penting pemerintahannya. Bahkan, kemandirian pangan menjadi bagian dari Asta Cita dan diarahkan sebagai fondasi untuk memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan Indonesia.

Bagi Prabowo, persoalan pangan tidak boleh hanya dilihat dari sisi ekonomi. Ketergantungan terhadap impor bisa menjadi masalah serius ketika dunia menghadapi perang, krisis ekonomi, perubahan iklim, atau terganggunya jalur perdagangan. Karena itu, Indonesia harus memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Atas dasar itu, pemerintah bergerak cepat. Produksi pertanian ditingkatkan, penyerapan hasil panen diperkuat, harga pembelian gabah dinaikkan, dan cadangan beras nasional diperbesar.

Kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil pada 2025. Berdasarkan data BPS, produksi padi mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling, atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun 2024. Sementara produksi beras untuk konsumsi masyarakat mencapai sekitar 34,69 juta ton.

Angka tersebut menjadi semakin penting karena kebutuhan beras nasional berada di kisaran 31,2 juta ton. Dengan produksi sekitar 34,7 juta ton, Indonesia memiliki surplus sekitar 3,5 juta ton.

Pemerintah juga menyatakan tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang 2025. Artinya, kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

Capaian tersebut menjadi semakin menarik jika dibandingkan dengan target awal pemerintahan Prabowo. Ketika dilantik pada Oktober 2024, Prabowo menargetkan Indonesia mencapai swasembada pangan dalam waktu empat tahun. Namun, untuk beras, target tersebut dinyatakan tercapai pada 2025.

Ini menunjukkan adanya percepatan yang cukup signifikan. Meski begitu, keberhasilan swasembada beras tidak boleh membuat pemerintah berhenti. Sebaliknya, capaian ini harus menjadi pijakan untuk memperkuat kemandirian pangan secara lebih luas.

Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar dalam meningkatkan produksi jagung, kedelai, gula, daging, serta berbagai komoditas strategis lainnya. Di saat yang sama, kesejahteraan petani juga harus menjadi perhatian. Produksi yang tinggi tidak akan berarti banyak jika petani tetap kesulitan mendapatkan keuntungan yang layak.

Karena itu, keberhasilan swasembada seharusnya diukur dari dua sisi sekaligus: produksi pangan meningkat dan petani semakin sejahtera, sementara masyarakat tetap mendapatkan pangan dengan harga yang terjangkau.

Dua tahun pertama pemerintahan Prabowo setidaknya menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap impor bukan sesuatu yang tidak bisa dikurangi. Dengan kebijakan yang konsisten, produksi dalam negeri dapat diperkuat dan cadangan pangan dapat ditingkatkan.

Pada akhirnya, keberhasilan swasembada beras bukan berarti seluruh persoalan pangan Indonesia telah selesai. Namun, capaian tersebut merupakan langkah penting menuju sistem pangan yang lebih mandiri.

Karena swasembada pangan pada dasarnya bukan hanya tentang memiliki beras yang cukup. Lebih dari itu, swasembada adalah kemampuan sebuah bangsa untuk memastikan rakyatnya tetap bisa makan tanpa harus bergantung pada negara lain.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.