Harga Singkong Bangkit, Ekspor Mocaf Dibuka: Langkah Nyata Pemerintah Memperkuat Kesejahteraan Petani

Kenaikan harga singkong dari sekitar Rp700 menjadi Rp3.000 per kilogram dan rencana percepatan ekspor tepung mocaf menjadi sinyal positif bagi kebangkitan perkebunan rakyat. Pemerintah tidak hanya berupaya melindungi petani di pasar domestik, tetapi juga mendorong singkong Indonesia naik kelas menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan peluang bersaing di pasar internasional.
Kabar baik datang dari sektor pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa harga singkong di tingkat petani yang sebelumnya sempat terpuruk hingga sekitar Rp700 per kilogram kini meningkat menjadi sekitar Rp3.000 per kilogram. Bahkan, laporan dari petani di Pringsewu, Lampung, menyebut harga mencapai Rp3.050 per kilogram. Perkembangan tersebut disampaikan setelah pemerintah mengambil kebijakan penghentian impor singkong.
Perubahan ini patut diapresiasi karena harga jual hasil panen merupakan salah satu faktor penting yang menentukan pendapatan petani. Ketika harga terlalu rendah, petani menanggung risiko kerugian meskipun telah mengeluarkan biaya untuk bibit, pupuk, tenaga kerja, dan pemeliharaan kebun.
Dalam konteks tersebut, kebijakan pemerintah untuk memberi ruang lebih besar kepada hasil produksi dalam negeri merupakan langkah yang layak didukung. Petani membutuhkan pasar yang mampu menyerap hasil panen dengan harga wajar, bukan sekadar dorongan untuk terus meningkatkan produksi.
Mocaf: strategi mengangkat nilai tambah perkebunan rakyat
Rencana percepatan ekspor tepung mocaf merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi. Mocaf (modified cassava flour) adalah tepung singkong yang dihasilkan melalui proses modifikasi, sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku berbagai produk pangan sesuai karakteristik dan standar pengolahannya.
Menurut pemberitaan resmi Kementerian Pertanian pada 28 Oktober 2026, pemerintah tengah menyiapkan ekspor mocaf dalam waktu dekat. Namun, negara tujuan ekspor dan realisasi pengiriman belum diumumkan secara terperinci.
Dengan demikian, kebijakan ini tidak semestinya dipandang hanya sebagai urusan perdagangan. Ini adalah kesempatan untuk membangun ekosistem ekonomi dari kebun petani hingga industri pengolahan dan pasar dunia.
Data produksi menunjukkan besarnya potensi singkong Indonesia
Potensi tersebut didukung oleh basis produksi nasional yang besar. Publikasi Analisis Kinerja Perdagangan Ubi Kayu Tahun 2025 dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa produksi ubi kayu Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 15,18 juta ton. Lampung menjadi sentra produksi utama dengan kontribusi sekitar 47,32%, atau sekitar 7,9 juta ton.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa singkong memiliki posisi strategis dalam perekonomian pertanian Indonesia. Akan tetapi, besarnya produksi tidak otomatis menjamin kesejahteraan petani. Tantangan utamanya adalah bagaimana hasil panen terserap dengan baik, harga ditingkat produsen tetap menguntungkan, dan industri pengolahan mampu membeli bahan baku secara berkelanjutan.
Kementerian Pertanian sendiri mencatat sejumlah persoalan struktural, mulai dari pasokan musiman, produktivitas yang masih dapat ditingkatkan, mutu bahan baku, hingga lemahnya kepastian penyerapan hasil panen akibat pola perdagangan tanpa ikatan. Untuk itu, rencana ekspor mocaf perlu diikuti pembenahan rantai pasok dari hulu hingga hilir.
Mengapa kebijakan pemerintah layak diapresiasi?
Pertama, pemerintah menunjukkan perhatian terhadap persoalan harga di tingkat petani. Penghentian impor singkong yang disampaikan Kementan diarahkan untuk mengurangi tekanan terhadap produk lokal dan memberi kesempatan lebih besar bagi hasil panen domestik untuk terserap pasar. Langkah pengendalian impor ini juga memiliki latar belakang yang jelas: pada Mei 2025, Kementan telah mengusulkan pengendalian impor singkong dan produk turunannya setelah mencatat kenaikan volume impor ubi kayu dari 2023 ke 2024.
Kedua, pemerintah berupaya menghubungkan perlindungan petani dengan strategi hilirisasi. Ini penting karena kebijakan pertanian yang baik tidak berhenti ketika harga mulai naik. Pemerintah perlu memastikan bahwa petani tetap memperoleh manfaat ketika produksi meningkat, industri membutuhkan lebih banyak bahan baku, dan pasar ekspor mulai berkembang.
Ketiga, rencana ekspor mocaf menunjukkan adanya peluang transformasi ekonomi pedesaan. Petani bukan hanya pemasok bahan mentah, melainkan dapat menjadi bagian dari sistem produksi yang menghasilkan barang olahan untuk pasar yang lebih luas.
Keempat, kebijakan tersebut dapat mendukung penguatan perkebunan rakyat apabila disertai kemitraan yang adil, akses pembiayaan, teknologi pengolahan, serta pendampingan mutu. Dengan cara ini, manfaat ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada industri besar, tetapi juga menjangkau petani kecil dan koperasi di sentra produksi.
Dengan kata lain, langkah Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam memperkuat pasar singkong domestik serta menyiapkan ekspor mocaf layak mendapat apresiasi. Kenaikan harga yang dilaporkan dari sekitar Rp700 menjadi Rp3.000 per kilogram memberikan harapan baru bagi petani, sementara rencana ekspor membuka peluang untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian
Komentar (0)
Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.
