Melihat Cara Prabowo Menyiapkan Generasi Unggul Masa Depan Bangsa

27 Okt 20261FFajri Yanuar
images (13) cropped

Kalau kita bicara soal masa depan Indonesia, sebenarnya yang paling menentukan bukan cuma seberapa kaya sumber daya alam kita, seberapa banyak pabrik yang dibangun, atau seberapa besar pertumbuhan ekonomi. Yang paling penting adalah kualitas manusia yang akan mengelola bangsa ini di masa depan. Karena itu, langkah Presiden Prabowo Subianto membangun generasi unggul perlu dilihat sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar kumpulan program pemerintah.

 

Arah kebijakan ini terlihat dalam APBN 2026. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp769,1 triliun untuk anggaran pendidikan dan Rp335 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). MBG dirancang menjangkau 82,9 juta penerima, termasuk peserta didik, ibu hamil, dan balita. Sementara itu, anggaran pendidikan mendukung berbagai program, mulai dari bantuan pendidikan, beasiswa, peningkatan kualitas guru, hingga perbaikan fasilitas sekolah.

 

Uang negara harus benar-benar berubah menjadi manfaat yang dirasakan masyarakat. Namun, kita perlu memahami bahwa membangun generasi unggul tidak bisa dilakukan hanya dengan satu kebijakan. Anak perlu makanan bergizi agar tumbuh sehat, sekolah yang layak agar bisa belajar dengan nyaman, guru yang berkualitas agar mendapatkan pendidikan yang baik, serta kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa terhalang kondisi ekonomi keluarga.

 

Di sinilah program-program pemerintah Prabowo perlu dilihat sebagai bagian dari satu tujuan besar. MBG berupaya memperkuat pemenuhan gizi, revitalisasi sekolah memperbaiki tempat belajar, sedangkan Program Indonesia Pintar (PIP), Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), dan Sekolah Rakyat memperluas kesempatan pendidikan. Jika program-program ini berjalan baik dan saling mendukung, anak dari keluarga sederhana pun punya peluang lebih besar untuk meraih masa depan yang lebih baik.

 

Salah satu langkah Prabowo yang menarik untuk membangun SDM unggul adalah kehadiran Sekolah Rakyat. Program ini memberi kesempatan kepada anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk mendapatkan pendidikan berasrama secara gratis. Hingga April 2026, Sekolah Rakyat telah menjangkau hampir 15.000 siswa di 166 lokasi yang tersebar di 36 provinsi, dengan dukungan lebih dari 2.500 tenaga pendidik dan kependidikan.

 

Menurut saya, program seperti ini penting karena kemiskinan sering kali bukan sekadar persoalan kurangnya penghasilan, tetapi juga terbatasnya kesempatan. Anak yang lahir dari keluarga kurang mampu tidak seharusnya kehilangan kesempatan untuk maju hanya karena keadaan orang tuanya. Jika pendidikan yang layak bisa diakses lebih luas, negara sedang membuka jalan agar anak-anak tersebut memiliki pilihan hidup yang lebih baik. Inilah salah satu cara memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

 

Pemerintah juga berupaya memperbaiki kualitas sekolah. Pada Agustus 2026, pemerintah menyampaikan bahwa sebanyak 16.167 sekolah telah diperbaiki sepanjang 2025, sementara program revitalisasi pada 2026 ditargetkan menjangkau 71.744 sekolah. Perbaikan ini penting karena kualitas pendidikan bukan hanya ditentukan oleh kurikulum, tetapi juga oleh kondisi ruang kelas, fasilitas sanitasi, dan lingkungan belajar yang aman.

 

Di bidang gizi, MBG juga memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menyediakan makanan. Evaluasi Kemendikdasmen terhadap lebih dari 1,2 juta responden murid menemukan bahwa sekolah penerima MBG mengalami penurunan gangguan belajar akibat lapar rata-rata 2,37 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah yang belum menerima program tersebut. Temuan ini merupakan indikasi awal yang positif, meskipun keberhasilan jangka panjang tetap perlu dinilai melalui pemantauan kualitas makanan, kesehatan anak, dan hasil belajar secara berkelanjutan.

 

Dengan ini, menyiapkan generasi unggul bukan pekerjaan satu atau dua tahun. Hasilnya mungkin baru terlihat ketika anak-anak yang sekarang duduk di bangku sekolah tumbuh menjadi tenaga profesional, ilmuwan, pengusaha, guru, pemimpin, dan inovator yang mampu bersaing di tingkat dunia. Karena itu, kebijakan Prabowo di bidang pendidikan dan gizi perlu dinilai sebagai investasi jangka panjang yang harus dijaga kesinambungannya untuk mencetak generasi unggul.

Komentar (0)

Kami meninjau komentar untuk menjaga percakapan tetap sehat. Hindari membagikan informasi sensitif.

Masuk atau daftar untuk bergabung dalam diskusi. Kami melindungi akun Anda dengan keamanan berlapis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberi tanggapan.